NAMA KELOMPOK
Nurul Jihad
Sahra
Mutahara
Arsy Sila
SMP NEG 1 SINJAI SELATAN
Pendahuluan
•Mengapa potensi wisata yang dipilih layak dikunjungi?
Karena jejeran dan rimbunan hutan bakau yang tertata alami di pesisir laut
Tongke-Tongke menampakkan keindahan panorama alam yang sangat indah sehingga objek wisata ini layak dikunjungi
•Apa yang menjadi daya tariknya?
Daya tarik obyek wisata di Tongke - tongke ini yang
utama adalah hutan mangrove. Hutan mangrove seluas 173,5 hektare ini
adalah hasil swadaya masyarakat
setempat, Potensi hutan mangrove yang telah tercipta menjadi suatu
ekosistem pantai, dapat dimanfaatkan menjadi sarana pendidikan sebagai pusat informasi
dan penelitian.
Ulasan
Menikmati panorama alam di Kabupaten Sinjai, tidak langkap rasanya jika kita berpelesiran kearah utara Sinjai saja. Dibagian timur laut Kabupaten Sinjai jejeran dan rimbunan hutan bakau yang tertata alami, pesisir laut Tongke-Tongke menampakkan keindahan panorama alam serta ribuan kelelawar yang bergelantungan pada tiap bulan April sampai pada bulan September mengikuti musim adaptasi lingkungan spesies binatang tersebut. Field Work Program (FWP) dalam hal ini kerja sama dengan tim dari JICA dan AUSAID yang mengadakan penelitian konvensi hutan bakau yang tak luput karena didominasi wilayah pesisir yang sangat mempesona. Dan tatkala tim ini menyempatkan dirinya untuk bersantai lebih lama menyatu dengan alam. Pada tahun 1993 Kabupaten Sinjai dalam pengembangan dan penghijauan pesisir, melalui Pak Tayeb salah seorang penanaman bakau mendapatkan penghargaan Kalpataru dari Presiden Soeharto, karena atas kerja keras dan keuletannya menyelamatkan biota laut dan keaneka ragaman hayati yang tersimpan rapi dipesisiran Tongke-Tongke, memancing para pihak peneliti bahkan investor luar untuk memberikan asumsi dan kerja sama pengelolaan dengan melihat keadaan marfologi laut yang diikuti sumber daya alam kepariwisataan. Sehingga sampai sekarang kawasan mangrove ini dijadikan sebagai kunjungan wisatawan yang terbukti banyak di minati oleh kalangan mancanegara. Desa Tongke-Tongke dengan kekayaan hutan bakaunya lebih dikenal dengan laboratorium bakau Sulawesi Selatan dimana pengembangan Sulawesi Selatan sebagai tempat pengembangan hutan bakau yang memiliki luas areal 786 Ha, yang dikembangkan dengan swadaya dan budidaya masyarakat secara murni. Sebuah jalan kayu yang telah permanent sepanjang 250 m dengan fasilitas shelter serta villa terapung dalam kawasan yang telah menjadi momok utama dalam pengembangan kepariwisataan sebagai bukti animo masyarakat melalui pemerintah untuk bersinergi dalam mengelolah asset wisata tersebut. Disamping itu, masyarakat setempat dan pemerintah telah menyediakan sarana transportasi laut yang bersandar dipesisir dalam hutan bakau yang mana dipersiapkan bagi wisatawan mancanegara ataupun lokal untuk lebih menikmati keindahan hutan bakau dari luar dan biota laut serta keanekaragaman hayati yang menyatu dengan alam hutan bakau. Dari sektor perkebunan dan perikanan juga telah memfasilitasi sebuah sanggar tani yang dijadikan sebagai pusat pelatihan bakau dan aktifitas para sanggar tani wanita yang lebih berorientasi pada pemeliharaan bakau dan pengembangan disektor perikanan.
Menikmati sisi pengembangan kepariwisataan kedepan. Dengan melihat keadaan luas arel bakau, animo wisatawan mengharapkan adaya wisata boga yang bisa dijadikan sebagai sarana makan minum bagi mereka. Tradisional dan penyatuan dengan alam adalah sebuah motivasi bagi mereka ingin menikmati secara familiar dan natural apakah melalui dengan pesona malam hari atau alternatif wisata yang lain. Fasilitas alternative lain seperti keinginan untuk menyelam (diving) atau menikmati suguhan ikan bakar diatas biota bakau diwadahi oleh sarana villa terapung didalam kawasan ini. Sebuah desain pengembangan lebih mengacuh pada pengembangan wisata pesisir adalah hal yang tepat untuk hal ini. Sebagian lahan yang belum terkelola sepenuhnya bisa menjadi obyek pengelolaan lanjutan dengan mengacu pada kebutuhan para wisatawan. Mereka terlalu penak dengan keadaan perkotaan ataukah ribuan penak dalam kantor didepan komputer dan berbagai pekerjaan yang menuntut untuk segera diselesaikan, seketika ingin merasakan sentuhan alam dengan suguhan alam wisata bakau ini mampu mengobati kepenatan walaupun dalam sehari.
Menikmati sisi pengembangan kepariwisataan kedepan. Dengan melihat keadaan luas arel bakau, animo wisatawan mengharapkan adaya wisata boga yang bisa dijadikan sebagai sarana makan minum bagi mereka. Tradisional dan penyatuan dengan alam adalah sebuah motivasi bagi mereka ingin menikmati secara familiar dan natural apakah melalui dengan pesona malam hari atau alternatif wisata yang lain. Fasilitas alternative lain seperti keinginan untuk menyelam (diving) atau menikmati suguhan ikan bakar diatas biota bakau diwadahi oleh sarana villa terapung didalam kawasan ini. Sebuah desain pengembangan lebih mengacuh pada pengembangan wisata pesisir adalah hal yang tepat untuk hal ini. Sebagian lahan yang belum terkelola sepenuhnya bisa menjadi obyek pengelolaan lanjutan dengan mengacu pada kebutuhan para wisatawan. Mereka terlalu penak dengan keadaan perkotaan ataukah ribuan penak dalam kantor didepan komputer dan berbagai pekerjaan yang menuntut untuk segera diselesaikan, seketika ingin merasakan sentuhan alam dengan suguhan alam wisata bakau ini mampu mengobati kepenatan walaupun dalam sehari.
Berikut adalah foto dari lokasi wisata Hutan Mangrove Tongke Tongke
Simpulan
Lokasi obyek wisata mangrove Tongke-tongke yang berada di Kecamatan Sinjai Timur Kabupaten Sinjai ini sangat tepat untuk pengembangan obyek wisata mangrove karena daerah ini merupakan kawasan konservasi hutan mangrove dan telah di tetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Sinjai sebagai kawasan hutan mangrove yang di lingdungi .
Saran
Sebaiknya pengunjung peduli kepada wisata alam yang satu ini, karena kondisi disana sudah tidak senyaman dulu lagi meski potensial sebagai objek wisata
